Notaris Terancam Dipolisikan

Senin, 10/06/2013 11:19 WIB
0 Flares 0 Flares ×
f1 tanah3 Notaris Terancam Dipolisikan

Didik Wibowo, tunjukan tanah milik ahli waris almarhum Tirah di Jl Akordion Utara (gie)

Seorang Notaris, Luluk Wafiroh SH MHum, warga Jl Cengger Ayam, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, terancam dilaporkan ke Polres Malang Kota. Rencananya, akan dilaporkan oleh para ahli waris dari almarhum Tirah dan almarhum Lasiyun terkait dugaan penggelapan sertifikat tanah seluas 6313 M2 di kawasan Akordion Utara, Kelurahan Tunggulwulung, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang….

 

 

Menurut keterangan Didik Wibowo, anak dari Lasmini, salah satu ahli waris, bahwa bahwa tanah itu adalah milik para ahli waris yakni Condro, warga Jl Akordion No 86, Poniti Jl Akordion No 114, Lasmini warga Jl Akordion No 34A, Suradi warga Jl Akordion Utara dan Leseni warga Jl Akordion No 133.

“Tanah itu dijual dengan harga Rp 1 juta per meter dengan transaksi awal dengan Bu Nunik. Namun transaksi itu dibatalkan. Selanjutnya oleh Bu Nunik dialihkan ke Bu Luluk dan Pak Bambang dengan Pak Andre Handoko sebagai pembeli.

Disepakati harga Rp 6,313 miliar. Dari penjualan itu, tanah hanya di DP sebesar Rp 750 juta, pada 9 Januari 2013. Selanjutnya oleh pihak penjual dan pihak pembeli menitipkan sertifikat itu ke BPN dan diterima oleh Pak Suri Hadianto, sekitar pukul 11.00,” ujar Didik, saat bertemu Memo di kawasan Akordion pada Minggu (9/6/2013) siang .

Tentunya sertifikat itu bisa diambil dengan persetujuan kedua belah pihak. “Sertifikat itu sudah dibalik nama ke ahli waris. Sertifikat itu kita titipkan ke BPN dan bisa diambil jika ada persetujuan dari kedua belah pihak. Tentunya harus ada persetujuan dari ahli waris,” ujar Didik.

Masih dihari yang sama, pihak ahli waris kemudian mendatangi kantor Notaris Luluk. “Kita ke kantor Notaris Bu Luluk diberikan pengikat jual beli.

Besoknya ahli waris mengembalikan pengikatan jual beli dan kuasa mengarap lahan ke notaris diterima oleh Dita, staf notaris. Hal itu dikerenakan Bu Luluk sedang tidak ada. Tanggal 11 Januari 2013, ahli waris datang ke kantor notaris Luluk.

Oleh Dita ahli waris diberi fotocopy-an pengikatan jual beli. Setelah dibaca tidak sesui dengan nominal. Sebab harga yang disetujui Rp 1 juta per meter menjadi Rp 515 ribu permeter.

Kita melakukan penolakan hingga dilakukan revisi draf pengikat jual beli dengan harga Rp 515 ribu menjadi p 1 juta permeter oleh Bu Luluk,” ujar Didik.

Bulan Maret 2013, Bambang datang ke rumah ahli waris menyerahkan 2 lembar cek tertanggal 29 Maret 2013 dan 7 April 2013, masing-masing nominal Rp 1 miliar dan Rp 1,5 miliar, sampai habis masa pencairan cek BG tersebut ternyata kosong.

Pada 7 April pihak pembeli diwakili oleh Luluk dan Bambang meminta mengadakan pertemuan di rumah Suradi, ahli waris. Yakni untuk membahasa masalah pelunasan jual beli yang tidak ada titik terang.

“Pada 10 April 2013 Bu Luluk datang ke rumah ahli waris dengan dengan memberikan hasil kesepakatan bersama dan meminta tanda tangan ahli waris, juga ada saksi Pak Bambang dan Pak Khoirul Yamin.

Dalam surat kesepakatan bersama itu itu batas terakhir pelunasan adalah tanggal 7 Juni 2013. Namun sampai tanggal 7 Juni kemarin, tak juga ada pelunasan. Ini sudah terjadi wanprestasi,” ujar Didik.

Permasalahan kembali terjadi pada 3 Juni 2013, setelah Didik mendapat kabar kalau sertifikat tanah itu berada di tangan Luluk. “Saya kaget ternyata sertifikat itu ada di tangan Luluk. Sertifikat itu diambil dari BTN.

Tentunya hal itu membuat kita kaget dan sempat beberapa kali menanyakannya ke BPN kok sampai bisa sertifikat itu diambil oleh Bu Luluk tanpa persetujuan ahli waris,” ujar Didik.

Bahkan sampai batas akhir pelunasan hingga terjadinya wanprestasi, sertifikat itu belum dikembalikan oleh Luluk. “Bahkan sebelum ada pelunasan, tanah itu sudah dikapling-kapling dan dipagar hendak dibuat perumahan. Bahkan sudah dilounching dan brosurnya sudah ada,” ujar Didik. Dalam brosur perumahan itu tertulis nama perumahan North Point Residence.

Oleh karena itu beberapa hari lalu, pihak ahli waris memberikan somasi hingga baru kemarin dilakukan pembongkaran pagar pembatas tanah yang hendak dibangun. “Kalau hari ini batas pagar pembangunan perumahan itu sudah dibongkar,” ujar Didik.

Menurut keterangan Dicky Sulaiman, Ketua Forum Peduli Bencana Kota Malang dan Ketua Komunitas Pemuda, mengatakan bahwa akan mendampingi pihak ahli waris sampai masalah ini selesai.

“Dalam waktu dekat kita akan lapor ke pihak kepolisian. Kita juga sudah melakukan pemblokiran sertifikat. Kita akan melaporkan Notaris Luluk dan siapa yang ada di belakangnya. Kita melaporkan terkait masalah penggelapan sertifikat itu.

Sebab sertifikat itu diambil sendiri oleh Luluk tanpa sepengetahuan ahli waris dari kantor BPN. Sesuai kesepakatan bersama, ini ‘kan perjanjian batal, namun sertifikat belum juga dikembalikan. Selain itu belum adanya pelunasan, namun tanah juga sudah dibangun,” ujar Dicky.

Sementara itu, Luluk saat dikonfirmasi melalui telpon sekitar pukul 18.15, pada Minggu (9/6/2013), tidak bisa dimintai keterangan. Saat itu telpon Memo diangkat oleh Roni, suaminya. “Masih menghadiri mantenan, ponselnya tidak ada yang dibawa,” ujar Roni.

 

 

(gie)

 

0 comments

DAFTAR ISI | CONTACT US | REDAKSI | PRIVACY POLICY | TERM OF USE | DISCLAIMER

Copyright ©2014 MEMOAREMA.COM

206 queries 1,902 seconds

Back to Top

0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 StumbleUpon 0 LinkedIn 0 Email -- 0 Flares ×