Hukum Pelaku Seberat-beratnya, Nyawa Dibayar Nyawa

Jumat, 09/05/2014 16:20 WIB
0 Flares 0 Flares ×


* Mendung Duka Menggantung di Kasin Jaya

Diceritakan Sutrisno, dia sempat menanyakan keberadaan Edwin ke beberapa orang. Termasuk ia mengecek ciri-ciri jenasah ke salah satu kantor media massa dan Polsekta Sukun. Ia lalu menceritakan detik-detik terakhir anak sulung tercintanya….

Sutrisno, bapak korban

Sutrisno, bapak korban

Pukul 21.30, sang ibu mengirim sms agar Edwin pulang. Senin (6/5) pukul 22.10, Edwin sempat membalas sms akan pulang.

“Setelah itu ada yang memberitahu jam sebelas ada yang lihat Edwin riwa-riwi di lapangan sampo,” cerita Sutrisno.

Pukul 18.30, Edwin sempat meminta uang untuk beli bensin. Sutrisno lalu memberikan uang Rp 10 ribu sembari melihat kondisi ban motor yang kelihatan kempes.

“Win, sepedane gembos ngono lho, mosok yo mbok tumpak’i (Win sepedane gembos gitu lho, masak kamu naiki),” ujar Sutrisno, sambil menerawang.

Sepengetahuan Sutrisno, sang anak tidak pernah membawa dompet. Pasalnya, pernah Edwin kehilangan dompet dan HP sekaligus. Sutrisno sempat merasakan sesuatu yang janggal. Ia tidak bisa meninggalkan kegiatannya dalam renovasi rumah.

Sutrisno dan anggota keluarga lain meyakini ada rencana pembunuhan terhadap korban. Ia mendengar ada omongan-omongan soal pertemuan Edwin entah dengan siapa. Jelasnya, Sutrisno berharap siapapun pelakunya segera ditangkap pihak berwajib.

“Saya minta agar pelaku dihukum seberat-beratnya. Kalau bisa nyawa dibayar nyawa,” ungkap Sutrisno tegas. Selang beberapa menit kemudian, muncul informasi kedatangan ambulans jenazah. Sutrisno langsung memakai jaket hitam perlahan.

Tepatnya pukul 01.45, jenazah tiba, warga yang berkumpul langsung berdiri menyambut kedatangan. Mulanya keluarga korban berusaha tegar menerima jenazah.

Memasuki ruang tamu, Sutrisno tidak mampu menahan luapan duka. Ia dipeluk istri dan anggota keluarganya.

Selembar kain hijau dibentangkan di ruang tamu. Warga berjejal melihat isi dalam. Terdengar isak tangis yang sulit digambarkan rasa kehilangannya. Di sela-sela keramaian, beberapa warga mengucap tahlil.

“Iki anakku, iki anakku,” ujar dari dalam rumah duka. Suasana duka kental menyelimuti kampung Kasin Jaya. (oso)

 

0 comments

DAFTAR ISI | CONTACT US | REDAKSI | PRIVACY POLICY | TERM OF USE | DISCLAIMER

Copyright ©2014 MEMOAREMA.COM

210 queries 1,456 seconds

Back to Top

0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 StumbleUpon 0 LinkedIn 0 Email -- 0 Flares ×