Perseteruan dr Hardi - Valentina

Perseteruan dr Hardi – Valentina | Memo Arema Online

Perseteruan dr Hardi – Valentina

Kamis, 25/07/2013 09:43 WIB

Pemegang Saham Mayoritas Tunjukan Bukti Setor Saham

f1 lisa Perseteruan dr Hardi Valentina

Saksi Lisa Megawati (gie)

Memo — Sidang kasus Pasal 266 dengan dr Hardi Soetanto, warga Jl Mojo Kidul, Surabaya, sebagai terdakwa, semakin seru. Sidang Rabu (24/7/2013) siang di PN Malang, menghadirkan 2 saksi yakni Najib, Divisi Keuangan PT Hardlent Medika Husada dan Lisa Megawati, warga Jl Pasar Besar, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Keduanya dihadirkan oleh pihak JPU.

Lisa Megawati adalah pemilik Bank Tiga Bersaudara, juga pemilik Saham PT Hardlent Medika Husada sebesar 40 persen, namun tidak diakui oleh Dr FM Velentina SH MHum. Najib banyak ditanya soal pengeluaran keuangan PT Hardlent, sedangkan Lisa Megawati banyak memberikan keterangan terkait bukti penyetoran saham.

Dalam persidangan itu, diceritakan oleh Lisa Megawati bahwa tahun 1993, dia kenal dr Hardi dan Valentina. Saat itu, dia dundang pembukaan Salon Kecantikan Yosiko. “Saya ikut program salon itu hingga saya ditawari oleh dr Hardi yang memiliki konsep proyek kesejahteraan karyawan perusahaan tahun 1994. Proposal itu ditunjukan kepada saya. Setelah itu saya pelajari dan isinya cukup baik,” ujar Lisa Megawati.

Saat itu dr Hardi punya konsep namun tidak memiliki modal. “Saat itu saya yang diminta mendanai Rp 3 miliar. Saya kemudian setor modal Rp 3 miliar hingga November 1994 terbentuk PT Hardlent Medika Care (sebelum menjadi PT Hardlent Medika Husada). Pada Agustus 1995, kita ada perubahan menjadi Herdlent Medika Husada, akte 96. Pada 1997 kita buat akte no 22 di Eko Handoko telah disetor penanam modal. Saya ada bukti setor di Bank Bersaudara,” ujar Lisa.

Pada tahun 1995, usaha ini sudah terlihat maju dan kerjasama dengan Jamsostek di Jatim. “Setelah Jatim pada tahun 1996 kita kerja sama dengan Jamsostek di Jabar. Makanya butuh modal banyak. Juli 1998, kita dapat pengesahan dari Menkumham. April tahun 1999, resmi dapat persetujuan Menkumham,” ujar Lisa.

Lisa memiliki saham 40 persen, dr Hardi sebanyak 30 persen dan Valentina sebanyak 30 persen. “Saya setor saham Rp 240 juta yakni sebanyak 40 persen, dr Hardi Rp 180 juta yakni 30 persen dan Valentina Rp 180 juta yakni 30 persen. Tidak ada tipu-tipu, saya sudah menyetorkan saham,” ujar Lisa.

Lisa tampak jengkel karena dengan persoalan ini, maka modalnya Rp 3 miliar dan penyetoran saham 40 persen tidak diakui Valentina. Bahkan dari persidangan tadi, dia sempat beberapa kali menyebut Valentina dengan sebutan kere. “Valent itu kere, gak punya duit saja macam-macam,” ujar Lisa.

Usai persidangan, Lisa juga menambahkan bahwa RUPSLB 13 Maret 2012 dan akte no 17 itu sah dan tidak ada tipu-tipu. “Saat RUPSLB, dia sudah kita undang. Kalau tidak mau datang ya gak apa-apa. Saya dan dr Hardi, kan mayoritas,” ujar Lisa.

Dr Sudiman Sidabukke, SH., CN., M.Hum, kuasa hukum dr Hardi usai persidangan mengatakan bahwa tuduhan jika Lisa megawati dan dr Hardi tidak menyetor saham, itu perlu dipertanyakan lagi. “Persoalan Valent menuduh 2 orang tidak setor saham. Ada akte-akte yang mengatakan bahwa saham itu disetor penuh. Lisa 40 persen, Hardi 30 persen dan Valent 30 persen. Selain itu dari pengakuan Najib tadi pada tahun 2001, ada uang Rp 600 juta cocok dengan jumlah saham yang disetorkan. Jadi tuduhan tidak adanya penyeoran saham itu tidak benar,” ujar Sudiman.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, bermula dari Dr FM Velentina SH MHum, sebagai direktur Hardlent Medika Husada yang berkantor di Jl Galunggung Kota Malang, melapor ke Polres Malang Kota. Dia melaporkan Hardi, mantan suaminya dengan tuduhan memberikan keterangan palsu dalam akta pernyataan berita acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Hardlent Medika Husada No 17 tertanggal 17 Maret 2012. Akte itu dibuat di hadapan notaris Eko Cahyono. Hal itu dikarenakan dr Hardi dianggap tidak memiliki saham di PT Hardlent Medika Husada. Dalam kasus ini, dr Hardi telah ditetapkan sebagai tersangka.

 

 

(gie)

 

DAFTAR ISI | CONTACT US | REDAKSI | PRIVACY POLICY | TERM OF USE | DISCLAIMER

Copyright ©2014 MEMOAREMA.COM

70 queries 0,989 seconds

Back to Top